Berdasarkan
data yang dikeluarkan oleh menteri keuangan, APBN indonesia pada tahun 2012
disimpulkan sebesar Rp. 1.311,4 T tetapi belanja negara Rp. 1.435,4 T.
Belanja negara dibagi menjadi 2 yaitu belanja pusat dan belanja ke daerah.
besaran belanja pusat sendiri sebesar Rp. 965,0 T dan belanja ke daerah sebesar
470,4 T. nah yang coba saya perjelas adalah besaran anggaran belanja pusat yang
sebesar Rp. 965,0 T dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Membangun
Infrastruktur pendorong pertumbuhan Ekonomi
- Pembangunan infrastruktur perhubungan sebesar Rp. 55,6 T
- Pembangunan infrastruktur pemukiman sebesar
Rp. 33,4 T
- Pembangunan infrastruktur irigasi sebesar Rp
16,4 T
- Infrastruktur energi dan yang lainnya sebesar Rp.
56.0 T
2. Meringankan Beban dan Mensejakterakan Rakyat
- Layanan pendidikan yang murah dan terjangkau
sebesar Rp. 290,0 T
- Penanggulangan kemisikinan sebesar Rp. 99,2 T
- Layanan kesehatan murah untuk masyarakat sebesar
Rp. 48,0 T
- Ketahanan pangan sebesar Rp. 42,3 T
- SUBSIDI SEBESAR Rp. 208,9 T
3. Mewujudkan suasana aman tentram dan kepastian hukum bagi
kehidupan rakyat dan dunia usaha
- Bidang pertahanan negara sebesar Rp. 72,5 T
- Bidang keamanan dan ketertiban sebesar Rp. 30,2 T
Mari kita coba
telusuri lebih lanjut, dari beberapa APBN yang telah dijelaskan diatas maka ada
hal yang unik untuk kita bahas pada saat ini yaitu subsidi. subsidi jelas
sedang menjadi perbincangan serius yang dibahas dari kalangan bawah sampai pada
kalangan pejabat papan atas negara kita ini, anggap saja pejabat papan atas
negara kita salah satunya adalah DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
"katanya". Jika kita lihat, Subsidi di Indonesia total sebesar Rp
208,9 T dengan asumsi bahwa subsidi tersebut tidak hanya untuk BBM semata,
tetapi dibagi untuk Beras, Listrik, Pupuk, dan yang lainnya. Dalam dokumen rincian anggaran belanja pemerintah
pusat diketahui, total anggaran untuk DPR sebesar Rp 2,943 triliun. Sekitar Rp
2,283 triliun atau 77 persen di antaranya dialokasikan untuk belanja barang,
sekitar Rp 559,272 miliar untuk belanja pegawai, dan sisanya Rp 121,058 miliar
untuk belanja modal. (kompas.com, edisi Senin, 26 Maret 2012 | 09:42
WIB).
Jika saja para pejabat tinggi negara mau mengurangi anggaran belaja
mereka sebesar subsidi yang diberikan untuk masyarakat kecil, maka kemungkinan
naiknya BBM karena pengurangan subsidi akan dapat ditekan atau bahkan
mungkin tidak ada kenaikan harga BBM. dari jumlah yang jumlahnya begitu
fantastis tersebut, angka Rp. 208,9 T tidaklah seberapa besar.
Kesimpulannya memang mungkin benar, bahwa para pejabat tinggi negara
tidak mau berkorban untuk rakyatnya tetapi mengorbankan rakyatnya untuk kepentingan
dan kemakmuran mereka. maka merekan membuat kebijakan yang konyol dan salah
kaprah. jika hal ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin masyarakat
indonesia akan selalu menjadi tumbal para pemangku kekuasaan dinegeri ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar